Profil PSHT Lampung Barat

[Profil][twocolumns]

Gallery Video

[Video][bleft]

Kerohanian

[Kerohanian][bleft]

Kegiatan

[Kegiatan][bleft]

Persaudaraan Sebagai Nilai Manusiawi


Persaudaraan menyangkut pertama-tama cara mewujudkan hubungan antar manusia. Dan memang hal itu aspek yang penting. Persaudaraan merupakan kualitas perilaku manusia atau kenyataan psikososial. Persaudaraan itu bisa dilatih dan kita bisa berusaha untuk mewujudkannya.

Dalam persaudaraan kita menemukan batas-batas pribadi kita yang dikarenakan ‘egosentrisme’ alamiah kita atau pemusatan pada diri sendiri. Walaupun kita berbudi luhur, jika kita ingin tetap tinggal manusia yang sehat, kita harus mengindahkan kebutuhan alamiah kita akan keamanan, pegangan dan kepastian. Dan untuk itu kita membutuhkan orang lain. Namun kita harus juga melindungi dengan baik ruang gerak hidup kita sendiri. Tidak seorang pun bisa hidup dalam kevakuman. Manusia tidak bisa hidup dalam ruang dan waktu tanpa kepastian tertentu. Persaudaraan menciptakan ruangan aman dengan banyak unsur persamaan. Dalam persaudaraan kita bisa menerima orientasi.

Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa merasa tertekan. Orang lain memberi pegangan kepada kita. Ia memberi peluang untuk mengembangkan kehidupan kita sendiri ‘dengan aman’.

Spiritualitas persaudaraan ialah lain dari pada kemampuan sempurna manusia untuk menyatakan kepada orang lain ‘respek dan perhatian sebagai saudara’ dengan segala pembatasan dirinya sendiri. Jika inilah persaudaraan, semestinya cukup jika orang mempunyai motivasi bersama bagi hidup persaudaraan sehingga menjadi manusia sepenuhnya. Kalau begitu, persaudaraan lahir dari kebutuhan akan keadilan dan kebaikan, respek terhadap kelemahan dan kepekaan orang lain, rasa takut akan kesepian, keinginan untuk dihargai, disapa dan diperhatikan, dan juga keinginan untuk memiliki bersama satu rumah tangga, satu rumah, serta sarana materiil dan finansial, dan keinginan untuk menjadi efisien dan siap sedia bagi apostolat dan karya amal yang dicitakan, dst.

Dalam persekutuan antara individu, ‘persaudaraan’ berguna bagi setiap orang. Untuk suasana hidup yang optimal semestinya cukup untuk membicarakan secara terbuka motivasi-motivasi untuk persaudaraan dan memperkuat masing-masing motivasi itu. Pendampingan kelompok atau pendampingan psikososial dalam percakapan kelompok yang intensif merupakan alat yang baik untuk hal itu. Jika ada orang yang kurang seimbang, kurang dewasa atau yang mengalami terlalu banyak stres, orang itu bisa diberi bantuan psikologis atau bantuan sosial sehingga ia dapat tetap berfungsi dalam persaudaraan secara optimal. Walaupun semua itu memang baik dan perlu, kita harus bertanya apa inikah arti persaudaraan sebagai spiritualitas?

Jika kita bertanya apa sebenarnya persaudaraan, maka kita harus bertanya bagaiman persaudaraan sebagai nilai dan cara hidup yang membawa dalam diri kita suatu ‘perubahan terus-menerus ‘dalam hubungan dengan Allah’. Jika persaudaraan tidak hanya merupakan faktor ‘yang bermanfaat’ secara psikososial, ekonomis, organisatoris dan bagi apostolat, maka persaudaraan merupakan suatu panggilan. Panggilan bisa berguna, tetapi sebenarnya tak berkaitan dengan individualitas manusia. ‘Panggilan’ berarti bahwa kita harus meninggalkan ruangan tertutup kepentingan-kepentingan manusiawi kita, karena kita tersentuh oleh Firman Allah yang tak terpahami. Allah mengetahui diri kita secara pribadi dan mengajak kita untuk keluar dari pembatasan kita. Karena itu kita menyebut persaudaraan suatu nilai kehidupan yang fundamental. Melalui cara hidup itu Allah akan mengubah mereka dalam Dirinya. Maka persaudaraan tidak merupakan ‘nilai’ yang membantu kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Penulis: Cah Magetan

Tidak ada komentar: