Profil PSHT Lampung Barat

[Profil][twocolumns]

Gallery Video

[Video][bleft]

Kerohanian

[Kerohanian][bleft]

Kegiatan

[Kegiatan][bleft]

Belajar Dari Tangkai Bunga Terate


Lambang atau pun priambole SH Terate, sesungguhnya merupakan aktualisasi dari ajaran. Maknanya, tersembunyi pelajaran berharga bagi warga yang berusaha untuk menggali, menghayati dan mengamalkannya.

Ketua Majelis Luhur SH Terate Pusat Madiun, Ir. RB Wijono, mengatakan itu saat membuka Rapat Kerja Pengurus SH Terate Pusat Madiun di Solo, yang silam.

Sebut misalnya, pelajaran yang bisa digali dari tangkai bunga terate. Menurut Mas Wie, panggilan akrab RB Wijono, bunga terate bisa beradaptasi dengan lingkungan, bahkan lingkungan liar sekalipun, seperti di danau di tengah hutan, karena berdaun lebar, bertangkai panjang dan fleksibel.

Manakala air pasang dan membanjir, tangkai bunga terate bisa meliuk liuk, menghindar dari terpaan arus. Sebagai bagian dari proses kehidupan bunga, tangkai terate setia mempertahankan keutuhan penampang daun agar tetap bertahan pada posisinya. Dan, dengan kelenturan yang dimiliki, ia mampu mengarus arah air (ngili banyu), tapi tidak terseret arus, bahkan tidak tenggelam.

Prinsipnya kokoh bertahan pada akar, karena ia sadar dan mengerti bahwa tugas utamanya adalah menjaga penampang daun dari terpaan alam, tanpa harus meninggalkan akarnya,  agar penampang daun itu tetap bertahan pada posisisnya, menyerap sinar matahari, menjalani fotosintesis, dan pada saat yang ditentukan menumbuhkan kuncup bunga nan indah, apalagi saat klopaknya mekar dengan sempurna.

Begitu pun saat air surut dan bunga terate harus bertahan hidup di lumpur hitam, kotor dan berbau.

Bunga terate bisa beradaptasi dengan lingkungan, bahkan lingkungan liar sekalipun, seperti di danau di tengah hutan, karena berdaun lebar, bertangkai panjang dan fleksibel.

Manakala air membanjir, tangkai bunga terate meliuk liuk, menghindar dari terpaan arus. Sebagai bagian dari proses kehidupan bunga, tangkai terate setia mempertahankan keutuhan penampang daun agar tetap bertahan pada posisinya. Dan, dengan kelenturan yang dimiliki, ia mampu mengarus arah air (ngili banyu), tapi tidak terseret arus, bahkan tidak tenggelam, serta tetap setia bertahan pada akarnya.

Format panjang dan kelenturan tangkai terate ini, menurut Ketua Majelis Luhur SH Terate Pusat Madiun, Ir. RB Wijono, bermakna, warga SH Terate harus arif dalam menyikapi situasi yang sedang berkembang di lingkungannya, fleksibel, santun dan sabar. Dalam kondisi seliar dan sedahsyat apa pun, ia mampu bertahan dengan liukan yang indah dan tidak terseret deras arus perubahan. Pun tidak mudah patah (mutung, ceklek atine), dan tetap setia pada akarnya, tidak mangro tingal (bersikap mendua, munafik).

Begitupun saat air surut dan terate harus hidup di lumpur yang kotor, hitam dan berbau. Tangkai terate yang panjang dan lentur, mampu mempertahankan penampang daun agar tidak tenggelam dalam lumpur. Bahkan penampang daunnya yang lebar tetap terlihat bersih sekalipun hidup di atas lumpur. Setia penampang daun itu menjalani tugasnya, menyerap karbon dioksida,  menyerap sinar matahari, berproses dalam fotosintesis, hingga pada saatnya, mampu menumbuhkan kuncup bunga nan indah dalam tiga dimensi. Yakni, kuncup, setengah mekar dan mekar.

Amati, klopak bunga terate mekar dalam ritme keindahan, nyaris tak ternoda. Padahal, akar-akarnya menancap kokoh di dalam lumpur. Tangkainya, setia mempertahankan penampang daun, meski harus bergulat dengan lumpur hitam, kontor dan berbau.

Ketua Majelis Luhur SH Terate Pusat Madiun, Ir. RB Wijono
Menurut Mas Wie, panggilan RB Wijono, terdapat pelajaran yang bisa diambil dari situ. Yakni, sekalipun warga SH Terate hidup dalam lingkungan heterogen, bahkan lingkungan yang keras, kumuh, kasar dan licik sekalipun, ia tidak mudah larut dan tenggelam dalam lingkungannya. Jiwanya kokoh untuk mempertahankan nilai nilai keluhuran budi dan mampu menepis segala bentuk pengaruh jelek yang menyebabkan distorsi moralitas.

Sebagaimana tangkai terate yang tengah hidup dalam lumpur hitam, warga SH Terate tetap kokoh bertumpu pada akarnya, dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya (cedhak datan senggolan, mencala putra mencala putri). Lagi, sekalipun hidup di lingkungan yang keras, kumuh, kasar dan licik sekalipun, warga SH Terate, tidak tenggelam larut di dalamnya. Tapi justru bisa memberikan nuansa keindahan, kedamaian, dan magnit keluhuran budi, seindah klopak terate manakala tengah mekar dengan sempurna.

Tak hanya itu, selain panjang, lentur dan fleksibel, tangkai terate juga kosong, hingga mampu mengembang saat air banjir dan mampu bertahan di permukaan lumpur saat air surut. Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari tangkai terate / teratai yang kosong itu?

Tidak ada komentar: